BelajarApapun.Com
Beda Pola Asuh, Beda Hasil yang Didapatkan. Foto: colorado-family-law.com

Beda Pola Asuh, Beda Hasil yang Didapatkan

BelajarApapun.com, Jakarta – Sifat dan perilaku anak ketika dewasa terbentuk sejak usia dini. Pembentukan sifat dan perilaku anak ditentukan dengan cara bagaimana orang tua memberikan pendidikan parenting kepada anaknya. Setiap orang tua memiliki cara pola asuh yang berbeda-beda dan hasil yang berbeda juga.

Banyak orang tua modern saat ini, memberikan gaya parentingnya ke sosial media. Sehingga dengan perbedaan dalam pola mengasuh anak, menjadi perdebatan sengit soal yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Perdebatan antara orang tua ini emang tidak akan ada habisnya. Sebab, setiap orang tua memiliki pendapat dan pendirian terhadap pola asuh kepada anaknya, yang nantinya mereka akan merasakan hasil dari pola asuh yang mereka berikan kepada anaknya sejak kecil.

Baca juga: 5 Aspek yang Harus Diperhatikan Saat Menulis Feature

Orang tua melakukan parenting memiliki tujuan. Tujuan utama orangtua dalam melakukan parenting ialah menjamin sang anak menjadi tumbuh dewasa yang lebih baik dan bisa membanggakan orang tuanya. Untuk mencapai tujuannya, setiap orang melakukan gaya-gaya parenting sesuai dengan pendiriannya masing-masing. Berikut beberapa gaya parenting yang sering dilakukan orang tua, diantaranya:

  1. Authoritarian parenting (pola asuh ororiter)

Orangtua yang menjadi pola asuh ini, mendidik anaknya dengan cara memberikan aturan yang ketat kepada mereka, dan memberikan hukuman yang tegas apabila mereka melakukan pelanggaran. Teknik parenting ini menggambarkan orang tua yang mendominasi dan dictator, karena mereka sulit menjelaskan alasan di balik peraturan dan hukuman yang diberikan kepada anak.

Selain itu, orang tua yang menerapkan pola asuh ini. Karena mereka beranggapan bahwa anak harus menuruti perintah orangtua, biasanya mereka berharap pada hasil yang anaknya dapatkan, mereka cenderung berekpektasi tinggi terhadap anaknya. Ekpektasi yang tinggi tersebut, tidak sejalan dengan cara mereka tidak memberikan ruang untuk kesalahan anak dan juga tidak membimbing anak melakukan cara yang benar.

Hasilnya dari parenting ini, ketika dewasa nanti mereka cenderung melanggar aturan yang ada, tumbuh menjadi pribadi yang agresif dan mudah berkonflik dengan orang lain. Selain itu, mereka kurang percaya diri untuk menyampaikan opininya mereka, karena mereka merasa setiap opini yang mereka berikan sering terabaikan dari orang-orang terdekatnya, yaitu keluarga atau orang tua.

  • Authotitative parenting (pola asuh otoritatif)

Pola asuh ini memiliki kesamaan dengan pola asuh yang pertama, tetapi memiliki perbedaan dalam mendiskusi sesuatu kepada anaknya. Pola asuh ini memiliki unsur demokratis, karena orangtua orotitatif ini cenderung mendengarkan pertanyaan anak dan responsive terhadap hal apa saja yang dilakukan oleh anak.

Salah satu ciri orang tua yang menjalankan parenting ini ialah orang tua ikut serta dalam perkembangan anak ketika dewasa nanti, sang orang tua cenderung berekpektasi tinggi terhadap pencapaian anak ketika dewasa nanti. Tetapi, ekpektasi tinggi yang diinginkan orang tua dibarengi dengan memberikan dukungan, kehangatan, dan berinteraksi kepada anak bila mereka memiliki kesulitan atau keinginan.

Baca juga: 5 Media Sosial yang Bisa Mendukung Personal Branding

Hal hasil dari pola asuh ini, sang anak akan bertumbuh dewasa menjadi peribadi yang taat pada aturan dan menjalankan tanpa paksaan. Selain itu anak merasa percaya diri dan nyaman dalam mengemukakan pendapat di depan orang lain. Karena, sejak kecil sang anak dididik untuk berdemokrasi terhadap suatu hal.

  • Permissive parenting (pola asuh permisif)

Teknik parenting yang permisif ini menggambarkan orang tua yang sangat mencintai anak-anaknya. Mereka sangat sedikit memberika tuntutan atau aturan kepada sang anak. Orangtua ini seringkali tampak seperti seorang teman daripada figur orangtua. Mereka sering kali memberikan banyak kelonggaran, tidak memiliki ekspektasi lebih kepada anak dan juga cenderung menghindari konfrontasi pada anak.

Ketika dewasa nanti, anak yang mendapatkan teknik parenting ini akan tumbuh menjadi pribadi kurang disiplin, karena mereka kurang mendapatkan batasan dan bimbingan dari orang tua. Selain itu, karena kurangnya ekspektasi orang tua. Anak tidak memiliki rasa untuk berjuang dalam mendapatkan suatu hal, mereka akan sulit untu mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah yang akan mereka hadapi ketika dewasa nanti.

  • Uninvolved parenting (pola asuh membiarkan)

Pola asuh ini menggambarkan orang tua yang meski memenuhi segala kebutuhan dasar anak tetapi mereka  kurang peduli dengan perkembangan anak, mereka cenderung kurang berkomunikasi dengan anak. Mereka tidak memberikan arahan, nasihat, larangan, dan anjuran untuk anak.

Sang anak akan tumbuh menjadi orang yang tidak bahagia dan tidak punya rasa percaya diri serta rendah hati. Secara akademis mereka akan sulit untuk berprestasi dan memahami pelajaran yang ada di sekolah. Biasanya orang tua yang melakukan pola asuh ini, karena mereka memiliki kesibukan dalam pekerjaannya sehingga tidak ada waktu dalam mengikuti perkembangan anak.

Baca juga: Beda Zaman Beda Pola Pengasuhan

Dampak pola asuh pada anak dari masing-masing parenting memiliki hasil yang berbeda-beda, uraian yang disampaikan tidak atas hanyalah dampak umum. Tetapi, dari penjelasan bukan berarti anak yang tumbuh dengan orang tua uninvolved parenting akan tidak sukses. Sebaliknya, anak yang dibesarkan orangtua yang otoritatif tidak akan menjamin anak sukses di masa depan. Hal ini akan balik lagi ke faktor lain yang memengaruhinya.

Penulis: Alfian | Editor: Feramita Eka Hirniah

Add comment

Newsletter