BelajarApapun.Com
Bapak Pendidikan Indonesia
Ki Hajar Dewantara Sosok Bapak Pendidikan Indonesia.

Belajar dari Semangat Juang Bapak Pendidikan Indonesia

Berbicara mengenai pendidikan Indonesia tak akan lengkap jika belum membahas mengenai salah satu pelopor yang membangun tonggak dasar pendidikan yang kita kenal sekarang. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, atau yang lebih dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara merupakan sosok itu.

Terlahir dalam keluarga ningrat dan mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dasar di ELS (Europeesche Lagere School) dan melanjutkan di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) tak membuat Soewardi lupa akan nasib kaum-kaum tak seberuntung dirinya. Ia justru aktif menulis di berbagai media cetak untuk mengkritik penjajahan pemerintah Hindia Belanda dan mendorong masyarakat Indonesia untuk terus melawan penindasan yang ada.

Dua tulisannya yang paling terkenal adalah Als Ik Eens Nederlander Was (Seandainya Aku Seorang Belanda) dan Een voor Allen maar Ook Allen voor Een (Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga) yang berisi kritikan mengenai tindakan pemerintah Hindia Belanda saat itu yang hendak menarik sejumlah uang dari masyarakat pribumi demi membiayai perayaan kemerdekaan Belanda atas Perancis. Soewardi dalam tulisan-tulisan tersebut dengan lantang menyatakan penghinaannya atas kelancangan Hindia Belanda yang dinilai tidak adil dan tidak pantas.

Ki Hajar Dewantara adalah bukti perjuangan para pendahulu demi menciptakan pondasi bagi sistem pendidikan Indonesia yang tidak hanya berpihak pada masyarakat atas saja, tetapi pada seluruh golongan.”

Baca Juga: Pendaftaran Seleksi Calon Guru Penggerak Angkatan 2 Resmi Dibuka

Dampak dari tulisan-tulisan tersebut, Soewardi kemudian diberikan hukuman pengasingan dan atas permintaannya dikirim ke Belanda selama beberapa tahun. Bagaikan berjiwa baja, Seowardi tak membiarkan pengasingan tersebut menggoyahkan perjuangannya. Ia justru sibuk mendalami pendidikan dan aktif dalam perhimpunan mahasiswa Indonesia, Indische Vereeniging. Tak hanya itu, Soewardi kemudian mendirikan Indonesisch Pers-bureau. Ia kemudian berhasil pulang ke Indonesia dengan membawa ijazah Europeesche Akta.

Keinginannya membangun pendidikan Indonesia dibuktikan dengan didirikannya Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa pada tahun 1922 yang bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi masyarakat kurang beruntung untuk juga dapat mengenyam pendidikan layaknya golongan bangsawan. Niat luhurnya untuk membantu masyarakat pribumi semakin lengkap dengan keputusannya menanggalkan gelar ningrat yang dimilikinya dan mengganti nama menjadi Ki Hajar Dewantara.

Ketika Indonesia merdeka, Ki Hajar Dewantara ditunjuk menjadi Menteri Pengajaran Indonesia, atau yang kini dikenal sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Hingga kini, kita masih dapat merasakan pengaruh sosok yang akhirnya dijuluki sebagai Bapak Pendidikan Indonesia ini dalam banyak hal, salah satunya adalah penggunaan kata “tut wuri handayani” dalam lambang resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang merupakan kutipan dari “ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”. Kalimat tersebut dibuat oleh Ki Hajar Dewantara sebagai prinsip dalam Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara adalah bukti perjuangan para pendahulu demi menciptakan pondasi bagi sistem pendidikan Indonesia yang tidak hanya berpihak pada masyarakat atas saja, tetapi pada seluruh golongan. Perjuangannya yang tak kenal lelah melawan penjajahan Belanda saat itu, di saat ia seharusnya bisa saja bersantai ria menikmati keistimewaan yang dimiliki sebagai keturunan ningrat, sudah seharusnya terus diingat oleh para penerus bangsa saat ini.

Marilah bersama-sama untuk tidak menyia-nyiakan apa yang sudah diperjuangkan oleh sang Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara.

Penulis : Nur Hidayah | Editor : Muhammad Wahiddin

Add comment

Newsletter