BelajarApapun.Com
Sosok Bu Mae, Pejuang Pendidikan di Pelosok Sukabumi

Bu Mae, Pejuang Pendidikan di Pelosok Sukabumi

Tujuh tahun lalu sebelum sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Manukur berdiri, permasalahan terkait pendidikan begitu kompleks. Banyak  anak-anak dari kampung Manukur tidak mengenyam pendidikan dasar karena minimnya perhatian masyarakat terhadap pentingnya pendidikan, ditambah sekolah terdekat dari Kampung Manukur berada di dekat balai Desa Calincing yang berjarak sekitar 12 kilometer, dengan akses jalan sangat buruk sehingga anak-anak Manukur yang bersekolah disana hanya beberapa anak saja. Belum lagi jika musim penghujan tiba, banyak dari mereka bolos sekolah dikarenakan jalan yang mereka lewati begitu sulit, mungkin itu menjadi alasan masyarakat enggan menyekolahkan anaknya karena jarak terlalu jauh juga kasihan anak-anak mereka yang masih kecil harus menempuh jarak yang cukup jauh hanya untuk mengenyam pendidikan dasar.

Tepat pada tahun 2011 berdirilah sebuah Madrasah Ibtidaiyah di Kampung Manukur yang didirikan oleh pak Jamal selaku ketua yayasan yang didirikannya, dengan menggunakan dana bantuan pemerintah, pembuatan kelas untuk Madrasah Diniyah (MD) yang juga dibantu dengan swadaya masyarakat yang hanya cukup untuk tiga ruang kelas saja. sempat ada kekhawatiran dari Pak Jamal terkait guru yang akan mengajar di sana, karena sulitnya mencari guru dengan berbekal keikhlasan dan pengabdian. Terlebih karena pihak sekolah tidak mampu untuk mendatangkan guru dari luar dengan gaji yang cukup besar.

Kekhawatiran itu mulai hilang ketika Bu Mae sapaan akrab masyarakat Manukur kepada Ibu Icun Maemunah (48), yang mau mendedikasikan hidupnya untuk menjadi pengajar tetap di sekolah madrasah tersebut. tidak hanya mengajar, beliau juga berperan dalam merealisasikan pembuatan sekolah tersebut, dengan berbekal rasa cinta dan rasa kepeduliannya terhadap pendidikan.

Bu Mae mengatakan bahwa dirinya juga tidak segan mendatangi rumah warga untuk membujuk anak-anaknya agar mau bersekolah dan memberikan perhatian kepada warga terkait pentingnya pendidikan. Beliau ingin seluruh warga di Kampung Manukur pintar, tidak tertinggal dalam masalah pendidikan, dan mampu bersaing dengan anak-anak di wilayah kota sekalipun.

Bu Mae saat mengajar di ruang kelas

Bu Mae yang hanya lulusan SMA merasa terpanggil untuk mencerdaskan anak-anak di Kampung Manukur. Sebagai tenaga guru honorer, meski gaji yang diterimanya hanyalah Rp 300ribu per bulan, namun semangat beliau untuk mengajar dan mencerdaskan anak-anak tak pernah sirna.

Beliau adalah seorang ibu rumah tangga dengan satu anak yang baru berusia empat tahun. Bu Mae sudah tinggal di Kampung Manukur sekitar tujuh tahun lamanya. mengikuti suaminya yang bernama Pak Uu, seorang ustadz dan warga asli Kampung Manukur. Rumah Bu Mae dahulu berada di Karangtengah, Cibadak, Sukabumi.

Setiap pagi, Bu Mae harus mengurusi pekerjaan rumahnya terlebih dahulu sebelum berangkat ke sekolah. Pukul setengah delapan, Bu Mae harus berada di sekolah untuk menjadi instruktur senam anak-anak sebelum memulai kegiatan belajar.

Beberapa bulan setelah berdirinya MI Manukur, kegiatan belajar-mengajar di MI Manukur berjalan lancar dengan semangat baru yang dibuktikan dengan jumlah murid pertama yang bersekolah di MI tersebut yang cukup banyak. Karena banyak siswa pindahan dari sekolah lain.

Kegiatan mengajar dibantu dengan guru-guru dari keluarga Pak Jamal, tetapi tetap yang menjadi tulang punggung pengajar disana adalah Bu Mae. Namun permasalahan lama yang muncul kembali akibat kurangnya pemahaman masyarakat tentang pentingnya pendidikan, mereka banyak yang membiarkan anaknya bolos sekolah.

Bu Mae mengatakan bahwa dirinya juga tidak segan mendatangi rumah warga untuk membujuk anak-anaknya agar mau bersekolah dan memberikan perhatian kepada warga terkait pentingnya pendidikan. Beliau ingin seluruh warga di Kampung Manukur pintar, tidak tertinggal dalam masalah pendidikan, dan mampu bersaing dengan anak-anak di wilayah kota sekalipun.

Bu Mae memiliki program kreatif yang beliau terapkan kepada masyarakat disana, yaitu program mematikan televisi pada malam hari karena televisi dapat mengganggu kegiatan pengajian dan belajar siswanya, juga merupakan salah satu upaya dari Bu Mae untuk menghindarkan anak-anak dari bahaya tayangan-tayangan sinetron di televisi.

Bu Mae menginginkan ruangan TKQ yang baru dan lebih layak. Karena dengan adanya perbaikan dari fasilitas dan peralatan penunjang, membuat anak-anak akan semakin semangat dalam belajar dan mengaji.

Beliau tidak pernah merasa lelah setelah mengajar di sekolah, pukul setengah dua siang Bu Mae kembali mengajar di Taman Kanak-Kanak Qur’an (TKQ) yang didirikan di rumahnya yang begitu sederhana. Setelah itu, pada malam harinya setelah shalat Maghrib Bu Mae lanjut mengajar ngaji anak-anak di rumahnya. Sungguh pejuang pendidikan yang tak kenal lelah!

Salah satu tujuan beliau mendirikan TKQ tersebut ialah untuk mempermudah siswanya ketika masuk MI nantinya, dikarenakan masih banyak siswa yang buta huruf. Dengan adanya TKQ tersebut Bu Mae berharap agar siswanya sudah bisa membaca dan menulis ketika awal masuk sekolah.

Saat berbincang-bincang, Bu Mae sering mengeluhkan terkait TKQ yang baru berdiri 4 tahun tersebut, karena tempatnya yang begitu sempit dengan luas ruangan hanya 3×5 meter, ditambah lagi minimnya fasilitas dan peralatan penunjang untuk kegiatan mengajar seperti permainan edukatif untuk anak-anak, bahan ajar dan juga papan tulis. Bu Mae hanya menggunakan bahan ajar yang dibuatnya sendiri dengan bahan yang sangat sederhana, yaitu berupa karton yang dipotong-potong dan ditulis huruf abjad arab dan angka-angka. Media tersebut sudah digunakan hampir 7 tahun dan keadaannya sekarang sudah memprihatinkan,

Bu Mae menginginkan ruangan TKQ yang baru dan lebih layak. Karena dengan adanya perbaikan dari fasilitas dan peralatan penunjang, membuat anak-anak akan semakin semangat dalam belajar dan mengaji.

Mari kita doakan semoga niat tulus dan kebaikan Bu Mae dapat berbuah hasil yang manis demi terciptanya para intelektual muda harapan bangsa yang cerdas dan berkarakter. Amin Allahumma Amin.

(Artikel ini ditulis pada tahun 2018)

Penulis : Rahma Zumrotin | Editor : Muhammad Wahiddin



    
    
    			
    

Add comment

Newsletter