BelajarApapun.Com
Kurangnya Fasilitas Buku Bacaan yang Bermutu di Daerah Terpencil. Foto: ayosemarang.com

Kurangnya Fasilitas Buku Bacaan yang Bermutu di Daerah Terpencil

BelajarApapun.com, Jakarta – Pada tahun 2016 lalu, penelitian yang dilakukan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) menunjukan kebiasaan membaca di Indonesia tergolong sangat rendah. Hasil studi yang dipublikasikan dengan nama “The World’s Most Literate Nation”, menunjukan Indonesia berada diperingkat ke – 60 dari 61 Negara dalam kegiatan membaca.

Penyebab rendah kebiasaan membaca masyarakat Indonesia ini disebabkan kurangnya fasilitas membaca, terutama di daerah-daerah terpencil.

Baca juga: 4 Dampak Positif Pandemi Covid-19 bagi Lingkungan

Menurut Nirwan seorang pencetus gerakan Perpustakaan Bergerak, minat baca masyarakat Indonesia cukup baik dan mereka membutuhkan bacaan yang bermutu. “Menurut saya, minat baca anak-anak Indonesia itu sebenernya sangat bagus, tinggi sekali. Anak-anak Indonesia itu haus pada bacaan-bacaan yang bermutu. Tetapi emang fasilitas buku bacaannya kurang” Ujar Nirwan saat di wawacara disalahsatu perpustakaan di Jakarta.

Dengan itu, Nirwan membentuk para relawan untuk mendistibusikan buku bacaan yang bermutu ke beberapa daerah-daerah terpencil di Indonesia. Hal ini dilakukan agar kemampuan bacaan Indonesia terlatih secara kontinyu melalui buku-buku bacaan yang bermutu.

“Dari segi kemampuan memahami bacaan itu memang kita rendah, Jadi walaupun minat baca anak-anak kita ini tinggi, tapi kalu mereka tidak pernah dilatih secara kontinyu, tidak pernah dibantu dengan bacaan-bacaan yang bermutu. Maka berapapun tinggi minat baca mereka, kemampuan mereka untuk memahami bacaan itu pasti akan berkurang” Tutur Nirwan.

Nirwan mengharapkan peran pemerintah sangat penting untuk memfasilitasi buku bacaan yang bermutu agar dapat meningkatkan kemampuan berpikir masyarakat Indonesia itu sendiri, “Sebenernya begini, pemerintah itu tidak perlu memfasilitasi minat baca, karena minat baca kita sehat. Yang perlu pemerintah fasilitasi adalah menyediakan bahan-bahan bacaan untuk membentuk kemampuan kita mengelola, memahami dan kemudian menciptakan hal-hal baru dari bacaan itu.” Kata Nirwan

Selain itu, pendistribusian buku yang mudah untuk dikirim ke daerah-daerah terpelosok, akan membantu dalam peningkatan kegiatan membaca sebab orang-orang diberbagai penjuru lebih bisa mendapatkaan bacaan yang bagus.

Dalam pendistibusian buku bacaan Indonesia terutama di daerah terpencil itu sangat sulit sebab masih banyak ada kekurangan dari berbagai sisi, semisalnya di salah satu perpustakaan yang ada di desa-desa, banyak buku yang tersedia namun mutu buku bacaan tersebut masih kurang. Selain itu, ada pendistribusian buku yang memiliki mutu bacaan yang tinggi tetapi penyebaran yang tidak rata.

Hal ini memang terasa sulit bagi pemerintah bila mengerjakan sendiri, tetapi bagi Nirwan dengan terbentuknya relawan-relawan perpustakaan bergerak akan membantu pemerintah dalam mengerjakan pekerjaan ini.

“Pekerjaan besar seperti ini, tentu pemerintah tidak akan bisa menanganinya sendiri, dan karena itulah kemudian saya dan relawan-relawan ikut membantu untuk memfasilitasi buku bacaan, meskipun kita tidak bisa langsung mengangkat kemampuan membaca anak-anak itu. Tetapi, setidaknya para relawan Pustaka Bergerak itu, mencoba mensuplai buku bacaan yang bermutu, yang bisa dijangkau oleh mereka yang juga kurang beruntung, yang berada di daerah 3T” tutur Nirwan.

Baca juga: UNESCO Minat Baca Masyarakat Indonesia Masih Sangat Rendah

Polemik dalam kurangnya kebiasaan membaca Indonesia itu sudah sering terjadi, tetapi jika kita berharap kemampuan membaca masyarakat Indonesia lebih baik, kitu butuh gerakan yang lebih besar dan massive. Gerakan yang dimana seluruh untuk peduli pada peningkatan kecerdasan masyarakat Indonesia.

Penulis: Alfian | Editor: Feramita Eka Hirniah

Add comment

Newsletter