BelajarApapun.Com
Monolog: Kurangnya Pendidikan Indonesia. Foto: penatimor.com

Monolog: Kurangnya Pendidikan Indonesia

BelajarApapun.com, Jakarta – Banyak dari kita salah memahami, di mana ketika mengaitkan negara kita dengan negara lain maka dianggap tidak cinta dengan negara sendiri. Atau bahkan yang lebih ekstream menganggap kita belajar dari negara-negara kafir. Mindset serta gaya pandang yang tertutup serta radikal itulah yang menjadikan negara kita terhambat perkembangannya menjadi negara maju. Orang-orang Indonesia terlalu sibuk dengan nafas-nafas agama. Mereka takut akan ada yang mengafirkan, atau bahkan mereka termasuk di dalam orang-orang dengan pemikiran terbelakang sekaligus kaku.

Baca juga: Kurangnya Fasilitas Buku Bacaan yang Bermutu di Daerah Terpencil

Pendidikan, semua orang mendengungkan pendidikan adalah jalan dan bekal menuju negara yang sejahtera, namun nyatanya orang-orangnya tidak ada yang mau belajar, terutama belajar pada negara-negara maju yang di mana kemajuan itu didasarkan pada pendidikan yang bermutu. Kita seharusnya menerima bahwa Negara Dengan Pendidikan Terbaik Sebagai Referensi Pendidikan Indonesia Lebih Maju.


Kita seharusnya belajar dari negara Finlandia yang sampai saat ini masih memegang posisi nomor satu negara dengan pendidikan terbaik. Sistim yang diterapkan sebelum menginjak usia remaja, siswa tidak dibebankan pada pencapaian nilai melalui ujian atau pekerjaan rumah, oleh karena itu guru di Finlandia memiliki sistem penilaian siswa di tingkat pendidikan dasar. Batas usia anak masuk sekolah juga begitu ketat ditetapkan, yaitu harus genap berusia 7 tahun. Standar anak di Finlandia diukur jika sudah lebih dari 6 tahun belaar, tetapi kita melihat di Indonesia, anak SD kelas satu saja sudah dibebankan pada ujian kenaikan kelas. Dan masih banyak dosa-dosa besar yang ada di pendidikan Indonesia.


Masih banyak negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, Denmark, Rusia, Norwegia dan negara-negara dengan pendidikan terbaik lainnya yang bisa kita ambil konsep pendidikannya, bukan mencontek model pendidikannya. Karena saya yakin, tipikal orang Indonesia adalah menganggap mencontek adalah perbuatan yang salah. Maka penerapan yang tepat adalah menggunakan konsep.

Baca juga: Permasalahan Pendidikan di Indonesia

Dalam hal ini pendidikan Indonesia masih menduduki posisi 74 dari 79 negara berdasarkan hasil survei PISA 2018 yang diterbitkan pada tahun 2019. Fakta ini seharusnya menjadi tolok ukur pemerintah hingga jajaran instansi pendidikan. Posisi central pemerintah (Kemendikbud) di sini sangat penting untuk mulai melakukan pembaharuan-pembaharuan rupa pendidikan di Indonesia.

Sudah beberapa kali saya menulis soal pendidikan di Indonesia, selalu standar penilaian siswa yang saya singgung. Ujian nasional, ujian kenaikan kelas, pekerjaan rumah. Standar-standar seperti itu bahkan sudah dimulai sejak anak duduk di bangku sekolah dasar kelas satu. Bayangkan, anak usia 7 tahun, sudah diberikan beban untuk terlihat berprestasi. Ini juga menjadi watak buruk manusia Indonesia yang selalu melihat kompetensi anak melalui hasil peringkat.


Ada juga saat ini program-program pendidikan instant berupa kelas akselerasi, sekolah regular, kelas internasional. Pengkotak-kotakan inilah yang menjadikan perbandingan sosial, baik dari kalangan orangtua, atau karakteristik anak yang terbentuk melalui pengkastaan tersebut. Kelas akselerasi bagi saya merupakan kelas yang dipakai orang-orang yang memiliki perekonomian di atas rata-rata. Strategi instan yang diberikan ini sesungguhnya tidak baik bagi sosial anak, juga emosional anak di mana anak akan lebih cepat jenuh dan melewati masa-masa usia yang dilewatinya karena standar usia yang diekstrak secara instan melalui kelas akselerasi ini akan mempertemukan anak dengan orang-orang yang lebih tua usianya daripada dirinya.

Baca juga: 4 Dampak Positif Pandemi Covid-19 bagi Lingkungan

Banyak hal yang seharusnya dapat dibahas dalam menelaah kesalahan-kesalahan pendidikan di Indonesia. Akan tetapi setiap detilnya bisa dibahas pada segmen yang lain. Catatan saya untuk pendidikan Indonesia adalah mulai berbenahlah dalam segi sistim pendidikan, agar jajaran pendidikan di seluruh wilayah dapat merealisasikan pendidikan yang lebih tepat demi menunjang kemajuan pendidikan di Indonesia baik secara nasional, maupun ranah Internasional melalui anak dengan prestasi yang baik sesuai kualitas masing-masing.

Penulis: Riski Murdianto | Editor: Feramita Eka Hirniah

Add comment

Newsletter