BelajarApapun.Com
Monolog: Mahasiswa Harus Menjadi Hoax Antidote Agent. Foto: Pixabay.

Monolog: Mahasiswa Harus Menjadi Hoax Antidote Agent

BelajarApapun.com, Kebumen – Sebagai salah satu manusia yang pernah merasakan dunia kampus sudah jelas mengenal kultur yang sangat lekat pada diri mahasiswa, yaitu menjadi orator ulung yang merasa suaranya ada sebagai penyambung lidah kaum-kaum tertindas. Sebagai suatu kesombongan jika mahasiswa menganggap bahwa kelas mereka adalah menjadi pengamat pemerintah yang berkuasa. Menyuarakan orasi ketika merasa kebijakan-kebijakan pemerintah tidak sesuai dengan pola pikir mereka, namun menunggangi nama masyarakat sebagai bentuk aksi kebenaran.

Baca juga: #4 Workshop of Journalism Mempublikasikan Tulisan

Mahasiswa yang dikata sebagai agent of change benar-benar menjadi sosok perubahan. Ya, menjadi sosok perubahan yang tadinya tawuran antar siswa di sekolah menengah, kini level up bentrok dengan aparat keamanan. Semua dilakukan demi “keadilan” bagi mereka dan masyarakat. Entah, benar kebenaran atau hanya sekadar melakukan aksi agar terlihat sebagai cendekia yang berpikir kritis, saya belum menganalisanya.

Lantas apa pemicu aksi-aksi mahasiswa yang menimbulkan beberapa kericuhan akhir-akhir ini? Tidak lain adalah berita yang disebarkan melalui media-media konvensional maupun berita online dengan membuat judul yang clickbait agar berita mereka disantap banyak pembaca. Ada juga berita didapatkan melalui media sosial seperti whattsapp, instagram, maupun facebook.

Namun sayangnya, beberapa aksi yang dilakukan mahasiswa beberapa pekan lalu kalah telak, alias tidak benar. Semua berita yang diterima mahasiswa adalah berita hoaks. Apa itu berita hoaks?

Berita hoaks adalah berita palsu yang dilakukan oleh seseorang untuk membuat pembaca atau pendengar percaya pada berita yang diberikan sekalipun sang pembuat berita sesungguhnya juga memahami bahwa berita tersebut palsu. Semua itu dilakukan agar banyak orang percaya dan menjadikan landasan tersebut untuk menyerang pemerintah atau instansi yang dituju. Kenapa pemerintah? Karena akhir-akhir ini semua berita hoaks ditujukan untuk menggoyahkan pemerintahan.

Baca juga: Cegah Hoax Corona Covid 19 Indonesia Mahasiswa Bisa Apa?

Pasalnya, mahasiswa yang digadang menjadi penerus estafet pemerintahan masa depan dan sebagai agent of change justru termakan oleh isu hoaks tersebut. Seolah-olah mahasiswa sebagai connoisseurs of hoax news. Mahasiswa harus menjadi hoax antidote agent. Di mana kredibilitas mahasiswa sebagai tingkatan akademika yang mumpuni jika masih saja menjadi penikmat berita hoaks? Hancur generasi masa depan.

Saya ambil satu kasus Omnibuslaw tempo hari. Berita yang menyebar menyatakan bahwa peraturan Omnibuslaw ini merugikan para karyawan dan menguntungkan pihak asing. Mendapat berita miring tersebut, teman-teman saya yang tergabung dalam komunitas atau organisasi yang berlandaskan pemikir buru-buru melakukan aksi penolakan di salah satu kabupaten di Jawa Timur. Sejak awal, sejak berita itu muncul, saya tidak banyak bergerak, karena belum mendapatkan informasi yang pasti dari pemerintah.

Saya jadi berpikir orang-orang penggerak dan penyebar berita bohong mengenai Omnibuslaw sedang tertawa puas karena mampu menggerakkan aksi mahasiswa menantang peraturan pemerintah di beberapa titik wilayah. Hal tersebut juga sampai menelan korban. Inilah kekonyolan yang sebenarnya.

Baca juga: #3 Workshop of Journalism Teknik Menulis Feature

Point dari monolog saya kali ini, sih, hanya kembali mempertanyakan di mana kredibilitas mahasiswa jika melakukan aksi saja bersumber dari berita yang tidak benar? Hoaks itu harus dilawan, bukan justru dinikmati. Saya sempat tersenyum senang ketika itu dengan posisi masih sebagai mahasiswa akhir bahwa justru peraturan Omnibuslaw ini semakin meringkas peraturan yang lalu dan kembali melakukan perbaikan sistim agar warga negara Indonesia lebih kreatif, kuat menghadapi tantangan global dan yang pasti belajar dari kecerdasan serta kemajuan yang dilakukan tenaga asing sebagai bentuk pembelajaran agar orang Indonesia dapat menciptakan sendiri kecanggihan-kecanggihan yang dimiliki negara mau.

Penulis: Riski Murdianto | Editor: Feramita Eka Hirniah

Add comment

Newsletter